JAUH sebelum Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri, atau tepatnya pada zaman Mataram, tersebutlah sebuah dusun bernama Nusupan. Dusun itu terletak di sebelah tenggara Desa Sala, wilayah yang kemudian menjadi tempat perpindahan Keraton Kartasura.
Letak geografis dusun tersebut sangat unik. Dalam buku Babad Solo karangan RM Sajid disebutkan, ada sungai besar yang dinamakan Bengawan Beton membelah wilayah dusun itu menjadi dua bagian. Lalu di antara tepian bengawan yang membelah dusun itu terdapat sebuah bandar atau pelabuhan sungai. Pelabuhan itulah yang membuat Dusun Nusupan sangat ramai. Apalagi ketika pelabuhan itu menjadi sarana perdagangan para saudagar dari Gresik dan Surabaya yang menuju Kutha Gedhe (ibu kota Mataram). Atau sebaliknya, sebagai sarana transportasi para saudagar dari Kutha Gedhe yang ingin berdagang ke Gresik dan Surabaya. "Kawontenan makaten punika ngantos dumugi ing jaman Kartosura tuwin ngantos dumugi Surakarta. Saderengipun wonten sepur. (Keadaan seperti itu berlangsung hingga zaman Kartasura [Keraton Kartasura] serta hingga zaman Surakarta Keraton Surakarta Hadiningrat)," papar RM Sajid dalam buku tersebut.
Saat itu Desa Sala dipimpin seorang bekel bernama Kyai Gedhe Sala. Karena Dusun Nusupan termasuk wilayah Desa Sala, Kyai Gedhe Sala kemudian diberi wewenang menarik pajak terhadap orang-orang, terutama para saudagar yang setiap hari memanfaatkan pelabuhan tersebut. Semakin lama pelabuhan itu kian ramai. Banyak saudagar yang melakukan jual beli di tempat tersebut. Selain itu, banyak pula masyarakat yang membangun rumah di sekitar tepian bengawan.
Dalam perkembangannya nama bengawan kemudian berubah. "Sasampunipun kondhang dumugi sanes nagari, nama Bengawan Beton lajeng santun nama gantos ngangge nama bebekel ngriku. Lajeng kaaran Bengawan Sala (Setelah terkenal hingga ke negara lain, nama Bengawan Beton lalu berubah nama berganti dengan nama bekel di situ. Lalu disebut Bengawan Sala [sekarang sering dilafalkan orang dengan Bengawan Solo])," jelas RM Sajid. Itulah sekelumit sejarah tentang nama Bengawan Solo, sungai besar yang sekarang menjadi trademark Kota Solo.
Sabtu, 09 Agustus 2008
Riwayat Bengawan SoLo
Tahukah anda bahwa Bengawan Solo dahulu bernama Bengawan Beton? Penasaran ? ikuti kisah yang ditulis dalam Babad Kota Solo karya RM Sajid.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar